Paguyuban Pengusaha RM BPK Berkumpul Bahas Penurunan Omset Hingga 80 Persen
Medan (Tajukpos) - Puluhan pengusaha rumah makan Babi Panggang Karo (BPK) yang tergabung dalam Paguyuban Pengusaha RM B2 berkumpul dan mengadakan pertemuan di Restoran Kenanga Jalan Jamin Ginting Medan, Jumat (29/11/2019).
Berkumpulnya para pengusaha rumah makan itu untuk menyatukan persepsi dan mencari solusi atas kondisi menurunnya omset penjualan mereka, ujar Penasehat Paguyuban, Hendri Duin Sembiring di sela-sela pertemuan itu.
Disebutkannya, saat ini rumah makan BPK mengalami kerugian besar, karena banyak konsumen tidak berani mengkonsumsinya. Hal itu dikarenakan adanya virus kolera babi dan banyaknya ternak yang mati akibat penyakit.
Hal itu sangat berpengaruh terhadap para pengusaha rumah makan itu. Bahkan sejumlah rumah makan BPK yang tergolong kecil, banyak yang sudah tutup, karena tidak ada konsumen yang datang untuk makan. Hal itu tentu saja menjadi beban tersendiri bagi pengusaha rumah makan BPK dan sejenisnya.
Padahal, tidak mungkin para pengusaha RM BPK menyuguhkan daging yang ternaknya sudah mati dan terkena penyakit. Karena pada dasarnya, penyakit yang menyerang babi itu, tidak menular kepada manusia, ujar Anggota DPRD Medan itu.
Hal itu sudah ditegaskan oleh Dinas Kesehatan dan sejumlah organisasi kesehatan, sebut pengusaha BPK Tesalonika Simpang Selayang itu. Jadi tidak ada masalah kalau mengkonsumsi daging babi, ujarnya.
Untuk itulah para pengusaha berkumpul guna membicarakan masalah ini agar dicari solusi yang tepat untuk kembali meraih kepercayaan masyarakat terhadap daging babi, tegasnya.
Disebutkannya, dalam pertemuan yang dihadiri puluhan pengusaha RM BPK itu, di antaranya Hendri Duin Sembiring (BPK Tesalonika Simp Selayang), Darna Tarigan (BPK Olakisat), E Sembiring (BPK Horas), Terbit Juli Ginting (BPK Ingetenta), Jorenta Gurusinga (BPK Mariman) dan lainnya, semua pengusaha rumah makan sejenis harus bersatu dan saling bahu membahu menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Jangan sifatnya hanya menunggu, tapi harus mencari solusi atas permasalahan yang sedang terjadi.
Bukan hanya itu saja, para peternak juga mengalami hal serupa. Dimana saat ini babi tidak laku di pasaran. Bahkan, sejumlah peternak yang hendak menjual babinya juga tidak laku, walaupun dengan harga murah. Untuk itu permasalahan ini harus dituntaskan agar semua yang terkait bisa merasa nyaman, pungkasnya. (S1)